Jumat, 03 Mei 2013

KETAHANMALANGAN KEPEMIMPINAN KEPALA SEKOLAH (1)


Oleh : Subagio,M.Pd.

                Sekolah merupakan satuan pendidikan yang menyelenggarakan proses belajar mengajar mempunyai fungsi dan tujuan sebagaimana yang dimuat dalam Undang-undang Nomor 20 tahun 2003 pasal 3, tentang sistem pendidikan nasional yaitu, “mengembangkan  kemampuan  dan  membentuk   watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa,   bertujuan untuk mengembangkan  potensi peserta didik agar  menjadi  manusia beriman  dan  bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap,  kreatif,  mandiri,   dan  menjadi  warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab.”  Makna yang terkandung dalam  fungsi  dan tujuan pendidikan di atas adalah untuk menciptakan sumberdaya manusia berkualitas yang memiliki pengetahuan tentang manajemen sekolah, berbudaya organisasi, dan memiliki ketahanmalangan dalam menghadapi hambatan, permasalah, dan kesulitan yang merupakan tantangan dalam pelaksanaan tugas. Melalui pendidikan, sikap dan keterampilan manusia dapat dikembangkan, wawasan berpikir   manusia   menjadi semakin terbuka.
    
                 Di bawah kepemimpinan  seorang   kepala   sekolah   yang   profesional, dapat mengembangkan diri peserta didik sesuai  dengan potensinya, sehingga akan meningkatnya pendidikan di  sekolah yang ia pimpin. Tugas dan fungsi kepala sekolah sebagai pejabat formal, karena ditunjuk dan   diangkat   melalui   proses yang didasari atas kriteria-kriteria tertentu yang menjadi bahan pertimbangan untuk   pengangkatannya. Dari sisi  lain  kepala  sekolah berperan sebagai manajer, sebagai pemimpin, sebagai   pendidik, dan tak  kalah  pentingnya berperan sebagai staf. Berperan sebagai manajer adalah memimpin dan mengendalikan guru dan pegawai   serta   pendayagunaan   seluruh   sumberdaya    yang ada untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan. Dalam mengendalikan sekolah yang dipimpinannya, kepala sekolah perlu memiliki pengetahuan manajemen yaitu mampu merencanakan, mengorganisasikan, memimpin, dan mengendalikan sekolah serta mendayagunakan semua potensi yang ada di sekolah tersebut.
                Sebagai  seorang  pemimpin  harus  mampu  memberikan  bimbingan, menuntun, mengarahkan, dan mendorong timbulnya kemauan yang penuh semangat, percaya diri kepada para guru, staf, dan siswa dalam melaksanakan tugas serta memberikan inspirasi dalam mencapai  tujuan.  Sedangkan tugas yang tak kalah pentingnya adalah sebagai pendidik, karena dalam Kepmendiknas No. 143/MPK/1990 dan Surat Keputusan Mendiknas No. 162/U/2003 dan ketentuan yang terbaru dengan Peraturan Mendiknas No. 13 tahun 2007 bahwa Kepala Sekolah adalah guru yang diberi tugas jabatan sebagai kepala sekolah dengan lama masa jabatan empat tahun untuk mengendalikan sekolah tersebut. Sebagai guru, ia berkewajiban melaksanakan tatap muka di kelas selama enam jam perminggu. Kepala sekolah sebagai staf, bahwa ia sebagai pejabat formal yang pengangkatan, pembinaan, dan   tanggungjawabnya terikat oleh serangkaian ketentuan dan prosedur. Ia  bertugas dan bertanggungjawab kepada atasannya.

                Kepala Sekolah sebagai pemimpin di sekolah seyogyanya  memiliki karakter atau ciri khusus yang mencakup kepribadian, keahlian dasar, pengalaman, dan kemampuan yang profesional,  memiliki pengetahuan tentang administrasi sekolah dan  memiliki   kompetensi   penyelia   sekolah.   Apabila   tahapan danpersyaratanpengangkatan kepala sekolah tidak dilaksanakan sebagaimana diharapkan maka akan terjadi gap atau kesenjangan dalam pelaksanaan tugas kepala sekolah. Akibat secara umum  belum   tercapainya  sosok  yang  berkarakter  dan  profesional.

                Tiga unsur pokok kepemimpinan dapat dikategorikan yaitu: a) kepemimpinan merupakan suatu konsep relasi (relation concept);  b) kepemimpinan merupakan suatu proses; c)   kepemimpinan itu harus  membujuk  (inducing) orang   lain untuk mengambil tindakan. Batasan tersebut memberikan tiga kesamaan penting yaitu: a) kepemimpinan harus melibatkan orang lain; b) kepemimpinan mencakup distribusi kekuasaan yang tidak sama antara pemimpin dan anggota kelompok; c) kemampuan untuk memengaruhi   bawahan   dengan   berbagai cara.   Jadi  kepemimpinan itu adalah proses  memengaruhi dan dipengaruhi antara yang memimpin dan dipimpin untuk mencapai suatu tujuan.
                Untuk memengaruhi orang lain seorang pemimpin harus memiliki kompetensi atau   kemampuan   dasar  tentang kepemimpinan. Seperti dikemukakan Griffin, ada tiga kompetensi  yang   harus   dimiliki   seorang   pemimpin  yaitu:   (1)   kemampuan mendiagnosis,   artinya   kemampuan   dari   kognitif yang dapat memahami situasi dan kondisi pada saat sekarang dan masa akan datang; (2) kemampuan mengadaptasi, artinya kemampuan seorang pemimpin menyesuaikan perilakunya dengan lingkungannya; dan (3) kemampuan mengkomunikasikan, adalah kemampuan seorang pemimpin menyampaikan pesan-pesan yang diterima dan pesan itu perlu dikomunikasikan dengan bawahan atau pengikutnya.
                Di samping itu, seorang pemimpin harus memiliki beberapa kelebihan dibanding dengan anggota yang lain. Seperti dikemukakan Stogdill bahwa, pimpinan itu harus memiliki beberapa kelebihan: a) memiliki kapasitas yaitu kecerdasan, kewaspadaan, kemampuan berbicara, kemampuan menilai, dan keaslian; b) memiliki prestasi (achivement) yaitu memiliki gelar kesarjanaan, ilmu pengetahuan, perolehan   dalam   kegiatan-kegiatan   yang   unggul;   c)   memiliki tanggungjawab   yaitu   mandiri, berinisiatif, tekun, ulet, percaya diri, agresif,   dan  mempunyai   keinginan   untuk   keunggulan;   d)memiliki partisipasi, yaitu aktif, sosiobilitas tinggi, mampu bergaul, kooperatif,  mudah   menyesuaikan   diri,   memiliki   rasa   humor; e)   memiliki   status   meliputi   kedudukan   sosial   ekonomi   yang cukup, populer, dan tenar. Kelebihan-kelebihan tersebut dapat menimbulkan wibawa dan dipatuhi oleh pengikutnya. Tetapi tidak   semua   pemimpin   memiliki   keunggulan   yang   komplit, sudah pasti ada kekurangan dan kelebihannya. Lagi pula yang  ditonjolkan beberapa kelebihan di atas, menampilkan sifat-sifat   pribadi seseorang saja.
                Aktivitas memimpin pada hakikatnya meliputi suatu hubungan antara seseorang dalam memengaruhi orang lain agar mereka mau bekerja ke arah pencapaian sasaran atau tujuan. Hubungan antara pemimpin dan yang dipimpin merupakan hubungan interaksi, dan pemimpin harus memengaruhi kelompoknya. Seorang pemimpin bukanlah cara memaksa (concoersive) untuk menarik pengikutnya      hingga mencapai prestasi, tetapi harus membujuk (inducing) orang-orang lain untuk mengambil  langkah  menuju   sasaran bersama.        
                Pemimpin di samping harus mengenali sifat-sifat individual para pengikutnya, juga harus mengetahui kualitas-kualitas apa yang akan merangsang mereka untuk bekerja dengan baik. Oleh      sebab itu pengaruh mempunyai arti penting dalam setiap usaha memimpin. Dengan demikian   kepemimpinan memengaruhi perfoma organisasi dengan para pengikutnya. Adapun cara untuk      memengaruhi   kelakuan   yaitu  menggunakan   alat-alat   untuk memengaruhi (influencer) kelakuan dan pihak yang dipengaruhi  (infuence)

                Kekuatan pemimpin dalam mempengaruhi bawahan timbul dari organisasi   yaitu   kekuatan   koersif (coursive power), penghargaan (reward power), kekuatan karena adanya pengesahan (legitimate power), dan faktor individual pemimpin yaitu kekuatan individu memiliki keahlian  (expert power) dan memiliki identitas yang dikagumi dan dihargai (referent fower). Kekuasaan (power) merupakan kemampuan untuk memengaruhi kelakuan yang dimiliki seseorang dalam situasi tertentu. Makin  besar    kekuasaan  seseorang  pemimpin, makin besar pula pengaruhnya. Otoritas (authority),yaitu kemampuan untuk memengaruhi kelakuan yang mendasari seluruh spectrum pengaruh. Dalam proses   memengaruhi   berusaha mengubah   sikap, perilaku, nilai-nilai, norma-norma, kepercayaan, pikiran,  dan   tujuan  terhadap   orang-orang   yang   dipengaruhi   secara   sistematis.        
Memengaruhi dilakukan melalui proses komunikasi antara pemimpin dan pengikut. Agar berhasilnya proses memengaruhi seorang pemimpin harus memiliki: a) kredibilitas  dan  b) keterampilan negosiasi.  Kredibilitas adalah kualitas yang dimiliki seseorang yaitu kompeten, dipercaya atau jujur, kesamaan antara perbuatan dan perkataan, dan dinamis. Keterampilan bernegosiasi yaitu timbal balik antara pemimpin dan pengikut yang sering dalam waktu lama, dalam situasi berbeda, dan pendapat yang berbeda, atau konflik dalam mencapai kesepakatan. Munculnya konflik  disebabkan  faktor:  a)  sumberdaya  yang  langka,  b)batas tanggungjawab tidak jelas, c) gangguan komunikasi, d)bentrok keperibadian, c) perbedaan kekuasaan dan status, e)perbedaan tujuan. Konflik karena sistem sosial yang dipimpin oleh pemimpin, mereka menolak pemimpin dan membentuk kelompok sosial yang mempunyai tujuan, latar belakang budaya, pendidikan, kelas sosial yang berbeda. Hal ini terjadi jika norma-norma demokrasi tidak diterapkan. Konflik tersebut berkembang dan mengganggu proses kepemimpian karena: a) mengalihkan penggunaan sumber-sumberdaya, tenaga, pikiran, waktu, dan memperlemah produksi, b) mempersulit pemimpin menciptakan sinerji, c) memperlemah dayatahan kompetesi organiasi.
Dalam suatu perubahan terdapat tantangan yang akan mempersulit dalam pelaksanaan   memimpin. Disini seorang pemimpin harus memiliki ketahanmalangan dalam menghadapi konflik  internal organisasi. Konflik perlu ditangani dengan menggunakan cara: a) berkompetisi,  b)   menghindar,   c) berkompromi, d) mengakomodasi, e) berkolaborasi. Faktor-faktor yang memengaruhi sasaran agar tercapainya suatu keberhasilan, seorang pemimpin harus memiliki: a) pengetahuan, keterampilan dan pengalaman yang tinggi; b) memercayai kapasitas pemimpin; dan c) data dan informasi yang   digunakan  harus  akurat.